Simulasi KPR


0,1%
3,2%
6,7%
10,2%
13,25%
1
9
18
27
35
  • Pengertian KPR

    KPR (Kredit Pemilikan Rumah) atau Kalkulator KPR adalah kredit yang digunakan untuk membeli rumah atau untuk membeli kebutuhan konsumtif lainnya dengan jaminan (agunan) berupa Rumah. Walaupun penggunaannya sangat mirip, KPR berbeda dengan kredit konstruksi dan renovasi.

    Agunan yang diperlukan untuk KPR adalah rumah yang akan dibeli itu sendiri untuk KPR Pembelian. Sedangkan untuk KPR Multiguna atau KPR Refinancing yang menjadi Agunan adalah Rumah yang sudah dimiliki.

    Karena masuk dalam kategori Kredit Konsumtif maka peruntukan KPR haruslah untuk kegiatan yang bersifat Konsumtif seperti pembelian rumah, furniture, kendaraan bermotor dan tidak diperbolehkan untuk kegiatan yang bersifat produktif seperti pembelian stok barang dagangan, modal kerja dan lain sebagainya.

  • Syarat KPR

    No Dokumen Jaminan (Fotocopy) Karyawan Pengusaha Professional
    1

    Sertifikat (SHM atau SHGB atau Strata Title)

    2 IMB
    3 PBB
    4 Denah Bangunan (jika ada)
    5 KTP Penjual (suami + istri)
    6 Jika beli dari Developer yang sudah bekerjasama dengan pihak Bank, Poin ke-5 tidak perlu, hanya perlu SPR (Surat Pemesanan Rumah) dari Developer
    No

    Dokumen Peminjam (Fotocopy)

    Karyawan Pengusaha Professional
    1 Formulir Aplikasi KPR
    2 KTP Peminjam (suami + istri)
    3 NPWP Peminjam (suami + istri) dan SPT Tahunan (jika ada)
    4 KK atau Akta Nikah (jika sudah menikah)
    5 Ijazah terakhir dan Akta lahir (suami + istri)
    6 Rekening tabungan 3 bulan terakhir
    7 Slip gaji 3 bulan terakhir / Surat keterangan (SK) penghasilan
    8 SK kerja / SK pengangkatan pegawai permanen
    9 Rekening perusahaan 3 bulan terakhir (yang )
    10 Laporan keuangan 2 tahun terakhir
    11 SIUP, TDP, NPWP, Surat keterangan domisili perusahaan
    12 Akta pendirian perusahaan (jika PT) beserta perubahannya
    13 Akta pengesahan menkeh
    14 Surat ijin praktek
    15 NPWP badan (jika ada)
    16 Daftar client / PO / SPK 6 bulan terakhir
  • Perhitungan KPR

    Lakukanlah simulasi biaya serta cicilan KPR ini terlebih dahulu, agar Anda bisa menyesuaikannya dengan kondisi keuangan yang Anda miliki.

    Berikut cara menghitung biaya KPR dan cicilan, yang bisa Anda pertimbangkan sebelum mengambil KPR:

    1. Uang Muka dan Biaya yang Harus Dibayarkan di Awal

    Saat melakukan pengajuan KPR tentu saja kamu akan dibebani dengan sejumlah biaya, baik itu yang dibayarkan di depan atau sejumlah biaya yang menambah nilai cicilan itu sendiri (biaya bunga). Besaran biaya ini akan sangat tergantung pada kebijakan masing-masing piahk bank yang memberikan KPR.

    Sesuai dengan peraturan terbaru dari BI, maka besaran uang muka KPR saat ini adalah 5%. Namun besaran uang muka ini bisa saja berbeda pada setiap bank, tergantung pada kebijakan yang dimiliki oleh bank yang bersangkutan.

    Misal harga rumah sebesar Rp 1.500.000.000, maka Anda akan dikenakan uang muka untuk rumah pertama sebagai berikut:

    Uang Muka         = 5% x Harga Rumah

    = 5% x Rp 1.500.000.000

    = Rp 75.000.000

    Dengan perhitungan di atas, maka jumlah pokok kredit juga bisa dihitung secara otomatis, yakni:

    Pokok Kredit  = Harga Rumah – Uang Muka

    = Rp 1.500.000.000 – Rp 75.000.000

    = Rp 1.425.000.000

    Selain uang muka kredit, Anda akan dikenakan beberapa biaya berikut ini saat mengajukan KPR ke bank:

    1. Biaya Provisi

    Biaya provisi merupakan sejumlah biaya yang dikenakan oleh pihak bank kepada para nasabah pengguna KPR sebagai bentuk biaya administrasi atas sejumlah dana yang telah mereka pinjamkan.

    Besaran biaya ini bisa saja berbeda-beda antara satu bank dengan bank lainnya, namun sebagian besar bank menetapkan nilai 1% dari pokok kredit yang mereka pinjamkan.

    Perhitungannya adalah:

    Biaya provisi  = 1% x Rp 1.425.000.000

    = Rp 14.250.000

    1. Menghitung Pajak Pembeli (BPHTB)

    Untuk menghitung pajak pembelian, ada komponen yang harus dimasukkan, yakni NJOPTKP. NJOPTKP adalah Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak.

    Nilai NJOPTKP ini akan berbeda-beda pada setiap wilayah dan bisa saja berubah sewaktu-waktu sesuai dengan peraturan pemerintah. Besaran NJOPTKP yang digunakan di atas adalah untuk wilayah Jakarta, yakni sebesar Rp 60.000.000

    Perhitungannya adalah:

    Pajak pembeli   = 5% x (Harga Rumah – NJOPTKP)

    = 5% x (Rp 1.500.000.000 – Rp 60.000.000)

    = Rp 72.000.000

    1. Menghitung Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

    PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) pada umumnya harus dibayarkan sekaligus ketika mengajukan BBN (Biaya Balik Nama). Variabel Rp50 ribu yang digunakan dalam perhitungan ini bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung pada kebijakan pemerintah.

    PNBP     = (1/1000 x harga rumah) + Rp50 ribu

    = (1/1000 x Rp 1.500.000.000) + Rp50 ribu

    = Rp 1.550.000

    1. Menghitung Biaya Balik Nama (BBN)

    Proses balik nama ini juga akan tergantug pada perjanjian awal dan juga kebijakan yang diterapkan oleh pihak bank. Untuk perhitungan biaya yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

    BBN  = 1% x Harga Rumah

    = 1% x Rp 1.500.000.000

    = Rp 15.000.000

    BBN dalam perhitungan ini, bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung kebijakan dari pemerintah. Selain biaya-biaya di atas, sejumlah biaya notaris juga perlu diperhitungkan sejak awal, sebab proses pengajuan KPR ini juga akan membutuhkan layanan jasa notaris tersebut.

    1. Biaya Bunga dan Besaran Cicilan KPR

    Di dalam praktiknya, bank bisa saja menerapkan perhitugan bunga yang berbeda-beda pada KPR mereka. Hal ini tentunya akan sangat tergantug pada kebijakan bank itu sendiri. Penting untuk selalu mencermati penerapan bunga kredit ini, sebab akan sangat memengaruhi besaran cicilan yang harus dibayarkan ke depannya.

    Dalam perhitungan bunga tetap dengan asumsi bunga 10% setahun dan tenor KPR selama 20 tahun, maka besaran bunga KPR akan dihitung sebagai berikut:

    Cicilan Per Bulan = (Pokok Kredit x Bunga Per Bulan) / [1-(1+ Bunga Per Bulan) ^(- Tenor dalam Satuan Bulan)]

    = (Rp 1.425.000.000 x 10%/12) / [1-(1+10%/12) ^(-240)]

    = Rp 11.875.000 / 0.9083333333333333

    = Rp 10.786.458,33

    Total Pinjaman dan Bunga  = Cicilan Per Bulan x Tenor dalam Satuan Bulan

    = Rp 10.786.458,33 x 240

    = Rp 2.588.749.999,2

    Total Bunga  = Total Pinjaman & Bunga – Pokok Kredit

    = Rp 2.588.749.999,2 – Rp 1.425.000.000

    = Rp 1.163.749.999,2perusahaan pembiayaan terdekat.

  • Jenis-jenis KPR

    KPR Konvensional

    Ini mungkin jenis yang paling banyak diketahui oleh masyarakat. Alasan utamanya cukup jelas, yakni karena kurangnya informasi yang ada mengenai jenis KPR yang ada. KPR konvensional, atau disebut juga KPR non-subsidi, disediakan oleh hampir seluruh bank, tentu dengan persyaratan dan bunga yang berbeda-beda. Suku bunga yang ditetapkan biasanya mengikuti BI Rate. Karena ini bukan KPR dari pemerintah, pihak bank akan mengenakan denda yang cukup besar apabila masyarakat terlambat atau menunggak cicilan. Masa pinjaman KPR konvensional berkisar lima hingga 25 tahun.

    KPR Bersubsidi

    KPR bersubsidi merupakan fasilitas dari pemerintah yang disalurkan melalui bank-bank. Keunggulan KPR bersubsidi adalah uang muka dan bunga yang lebih rendah dibanding KPR konvensional. Namun, jenis KPR bersubsidi ini hanya untuk masyarakat dengan penghasilan rendah dan belum memiliki rumah, serta tipe rumah yang dapat dibiayai maksimal tipe 36. Kekurangan dari KPR bersubsidi adalah lokasi rumah yang sangat terpencil dan akses yang cukup sulit. Harga rumah yang dapat menggunakan KPR bersubsidi maksimal Rp120 juta.

    Suku bunga untuk KPR bersubsidi adalah 7,25% flat, dan sudah termasuk premi asuransi jiwa, asuransi kebakaran, dan asuransi kredit. Berita baiknya, pada awal tahun 2015 pemerintah berencana untuk menurunkan suku bunga KPR bersubsidi menjadi 5% flat. KPR bersubsidi juga bebas dari pajak pertambahan nilai (PPN).

    KPR Syariah

    Ini merupakan jenis KPR yang juga banyak diminati, sebab KPR syariah menggunakan prinsip jual-beli (murabahah). Maksudnya adalah KPR syariah akan membayarkan lunas rumah yang Anda inginkan, dan Anda tinggal mencicil kepada bank dengan masa cicilan hingga 15 tahun. Cicilan yang Anda bayarkan jumlahnya tetap karena KPR syariah tidak mengenal adanya bunga, tetapi harga rumah yang harus Anda bayarkan sudah ditambahkan dengan keuntungan yang akan diambil bank. Ini merupakan jenis KPR yang cocok bagi Anda yang takut akan pergerakan bunga naik-turun.

    KPR Pembelian

    KPR pembelian adalah jenis pembiayaan rumah dengan memberikan pinjaman uang untuk membeli rumah, dan rumah yang akan dibeli tersebut dijadikan jaminannya. Tak hanya rumah yang dapat dijadikan agunannya, tapi juga berbagai properti lain, seperti apartemen, ruko, dan rukan.

    KPR Refinancing

    Sebenarnya KPR refinancing bukanlah sebuah jenis pembiayaan untuk membeli rumah, melainkan termasuk dalam jenis pinjaman pribadi. KPR refinancing adalah fasilitas peminjaman uang yang menggunakan rumah yang sudah dimiliki sebagai jaminannya. Tak hanya bangunan rumah yang dapat dijadikan jaminan, tapi surat tanah juga dapat dijadikan jaminannya.

    KPR Take Over

    Tak banyak bank yang memberikan fasilitas KPR take over. Salah satu bank yang menawarkan KPR take over adalah KPR Mandiri. KPR take over adalah fasilitas untuk memindahkan KPR yang telah berjalan ke bank lain dengan keuntungan berupa tambahan limit pinjaman. KPR jenis ini lebih ke arah persaingan antar-bank untuk mendapatkan konsumen baru.

    KPR Angsuran Berjenjang

    KPR Mandiri juga memiliki KPR angsuran berjenjang, yakni fasilitas pinjaman yang diberikan untuk pembelian rumah tinggal dengan keringanan berupa penundaan pembayaran sebagian angsuran pokok sampai tahun ke-tiga masa pinjaman.

    KPR Duo

    Ini merupakan jenis KPR lain yang juga sangat jarang ditawarkan. Salah satu bank yang menawarkan KPR jenis ini adalah KPR Mandiri. KPR Mandiri Duo adalah fasilitas pinjaman yang diberikan untuk pembelian rumah tinggal, apartemen, ruko, atau rukan sekaligus pembelian mobil, motor, atau furnitur.

    Bank KPR Rekanan Rumaid

    1. BNI Syariah
    2. Bank BTN
    3. Mandiri
    4. Mandiri Syariah
    5. Bank Muamalat
    6. Bank Panin

Compare